Literasi Tangkal Infodemik, Mencari Solusi di Tengah Pandemik

Sabtu, 15 Agustus 2020 | 7:56 pm | 137 Views |
PENDIDIKAN- Pada Jum’at kemarin tanggal 14 Agustus 2020, beberapa orang Masyarakat Depok, Jawa Barat, yang terdiri dari Mahasiswa, Tenaga Pengajar dan Media menggelar Program pengabdian masyarakat memforward manfaat, mengangkat tema Gerakan Mencari Solusi Di Tengah Pandemi. Bertempat di Pusgiwa UI Depok.
 
 
seorang peniliti dan sekaligus tenaga pengajar Program Vokasional UI, Devie Rahmawati, terdengar menegaskan sebelimnya pertemuan yang digelarnya ini tetap mengedepankan dan atau tetap memperhatikan protokol kesehatan, dan pengecekan suhu badan, penggunaan masker, dan pemberian Handsanitizer. 
 
Tidaknya itu saja, kata Devie Rahmawati,  kegiatan berlangsung dengan prinsip 3A : Udara, jarak dan lama. Pintu ruangan terbuka, dimana peserta dalam posisi berjarak serta dilakukan hanya selama 2 jam, yang dihadiri sebanyak 40 peserta.
 
Melalui pertemuan ini Devie menyampaikan bahwa di tengah-tengah pandemi Corona, ada tantangan “virus” lain yaitu infodemik, yaitu penyebaran berita – berita bohong, yang dapat mendorong masyarakat berperilaku beresiko, menurunkan kepercayaan kepada otoritas kesehatan dan juga membuat masyarakat menjadi terlalu percaya diri. Sebagai perbandingan, studi di Amerika Serikat ditemukan bahwa sekitar 13% masyarakat Amerika yang percaya bahwa Covid itu hoax; 49% itu rekayasa manusia. Fakta obyektif ini menunjukkan bahwa “Virus Infodemik” ini juga menjangkiti masyarat maju. 
 
Studi di barat tentang respon masyarakat di tengah – tengah krisis (bencana alam, kesehatan, dan lainnya) menunjukkan bahwa biasanya terbentuk empat pola masyarakat yaitu patuh, pengikut, petualangan dan pemberontak. Yang mengerikan lagi jumlah masyarakat yang masuk dalam kategori pemberontak, yang tidak mau mematuhi atau menolak upaya-upaya menuju perbaikan dari krisis sekitar 10-20% paling tinggi. 
 
Jumlah ini tentu saja tidak dapat dipandang sederhana, karena belum ada penelitian mendalam tentang respon masyarakat terkait covid yang masuk dalam kategori pemberontak, bila diasumsikan terdapat 10% saja dari 270 juta Masyarakat Indonesia yang tidak mematuhi protokol kesehatan, maka berpotensi ada sekitar 27 juta orang yang akan dengan percaya diri melakukan aktivitas beresiko di tengah pandemi seperti yang sama-sama kita rasakan saat ini. Beberapa Devie.
 
Devie mengklaim bahwa masyarakat yang masuk dalam kategori “pemberontak” ini, dapat  berasal dari individu dengan latar belakang suku, ras, agama, pendidikan dan ekonomi yang beragam. Lagi-lagi mengambil contoh di Amerika Serikat, ada seorang penulis intelektual ternama, lulusan universitas ternama, juga mempercayai bahwa Covid ialah hoax. Artinya Virus Infodemik ini dapat menerpa siapapun.
 
Mengapa infodemik dapat menyebar dengan luas? Dari rangkuman studi-studi yang dilakukan, ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut seperti banjir informasi.
 
Sedangkan Menurut data Go Globe, dalam satu menit, setiap harinya, terdapat 98.000 cuitan twitter, 1.500 unggahan blog, 168 juta surel, 600 video baru di YouTube, 70 domain terdaftar, 695.000 status fb dan sebagainya. Hal ini yang membuat setiap individu mengalami kesulitan untuk melakukan filter terhadap informasi yang mereka konsumsi. Semangat kepahlawanan. Manusia memiliki dorongan untuk dapat menjadi “pahlawan” bagi manusia lainnya. Sehingga ada banyak individu yang dengan mudah menyebarkan informasi perihal Vaksin Corona misalnya, karena ingin menjadi pahlawan bagi individu lainnya, murni ingin menolong, bukan karena motif ekonomi atau politik. Ujarnya
 
Dijelaskan Devie, manusia memiliki kecenderungan untuk berbagai keresahan/ketakutan/kecemasan kepada orang lain. Ketika mereka menerima informasi yang menakutkan, tanpa berpikir panjang, mereka akan membagikan informasi tersebut, agar mereka tidak merasa resah/takut/cemas sendirian. Secara kecendrungan individu yang hanya mau mendengar serta mencari informasi yang sesuai dengan keinginan atau keyakinannya, membuat mereka menjadi tertutup dari potensi untuk menetima informasi lain, yang bisa jadi sebuah informasi yang telah terverifikasi, Katanya.
 
Lebih lanjut di jelaskannya,  yang juga gemar berbagi informasi tanpa melakukan verifikasi terhadap informasi yang dibagikannya, itu terjadi karena banyak individu memang tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman atas sebuah informasi yang diperoleh. Sehingga hal yang wajar kalau mereka kemudian menyebarkan informasi yang tidak tepat. Dan yang mirisnya lagi Insentif atau Penghargaan yang ditawarkan oleh teknologi berupa likes, retweets, telah mendorong manusia menjadi berkompetisi untuk mendapatkan pujian berupa “jempol” tersebut membuat penebar informasi menjadi semakin semangat. Kemudian Karakter berita hoax yang sensational, membuat individu yang menyebarkannya berpeluang mendapatkan penghargaan dari individu lain, karena miming berita yang disebarkan memiliki daya pikat tersendiri. 
 
Selanjutnya individu dalam merespon sebuah informasi lebih sering menggunakan intuisi dibandingkan intelegensia. Mengapa? Karena manusia selalu mengharapkan jawaban yang cepat dari setiap persoalan yang dihadapi. Tidak hanya itu, kecanggihan teknologi seperti deep fakes, yang mampu merubah – rubs video seseorang menjadi sesuai yang diinginkan, membuat semakin sulit bagi manusia memilah-milah mana informasi yang benar atau tidak. 
Insentif ekonomi berupa keuntungan finansial dari mekanisme click bait, membuat ada individu yang menjadikan produksi berita hoaks sebagai sandaran hidupnya. 
 
Lantas bagaimana mengatasi tantangan ini? Tanya Devie kepada peserta  
 
Jawabnya, untuk meyakinkan individu yang sudah terpapar oleh berita bohong atau (HOAX) tidak dapat argumen-argumen yang logis. Tetapi dapat dilakukan dengan menampilkam fakta berupa visual. Karena secara biologis, tubuh lebih mampu menerima informasi berupa visual dengan cepat. Studi akademik menunjukkan bahwa gambar-gambar yang menarik dan selalu ditampilkan secara berulang-ulang akan lebih Judah diingat dan dipercaya. 
Membangun mental “kepo” yang positif. Selalu mempertanyakan setiap informasi yang diterima, seperti : Emang iya? Dapat darimana? Kata Siapa? Lihat Sendirikah?
 
Nah, untuk membangun hubungan yang positif dengan orang-orang yang telah terpapar berita bohong. Karena ketika hubungan sudah positif ditandai dengan tingkat kepercayaan yang tinggi, akan mudah bagi kita untuk mengkomunikasikan kepada individu tersebut bahwa informasi yang diterimanya tidak benar. Kemudian melakukan pendekatan komunikasi dialogis bukan repressiv dengan memonopoli dan menghakimi. (upi)
Editor : Raden.Wahyudi
 
 

Related Post

Leave a Reply